Minggu, 11 Desember 2011

Fighting Cancer: Anak yang Bertahan Hidup

Sesampai di rumah setelah sempat membakar kalori pagi tadi, rasa laparku tiba-tiba menyerang. Saat itu masih ada sisa lauk dan sayur kemarin sore. Tombol bertuliskan POWER pada remote kutekan, muncullah gambar program khas Minggu pagi. Ditemani dengan 2 potong kecil sambal goreng tahu dan sayur sop, aku melahap sarapan pagi sambil sesekali melihat ke arah TV dihadapanku. Lama, berkali-kali kutekan tombol mencari program yang menarik. Akhirnya ada satu program yang membuat berhenti menekan-nekan tombol remote.

Anak dengan kisaran umur 2-12 tahun telah divonis mengidap kanker stadium akhir. Terlihat kepala mereka yang tanpa rambut menggeleng-geleng ke sana kemari. Mereka tampak kelihatan sehat, namun dibalik keceriaan mereka tersembunyi sebuah penyakit yang bisa saja secara tiba-tiba merenggut kebahagiaan mereka. Maya Septha, menjadi malaikat bagi anak-anak itu. Meskipun ia tidak dapat memberikan kesembuhan bagi mereka, setidaknya Maya telah memberikan suatu kenangan yang bermakna bagi anak-anak tersebut. Kenangan yang mengajarkan mereka bahwa masih ada orang-orang yang sayang dan peduli kepada mereka. Yayasan Rumah Kita menjadi tempat harapan hidup bagi mereka. Tempat itu dibangun sebagai rumah singgah bagi  anak, para pengidap kanker yang berasal dari keluarga ekonomi ke bawah dan berdomisili di luar pulau Jawa.

Program tersebut ku ketahui belakangan berjudul "Dari Hati". Sebuah reality show yang menampilkan dedikasi para artis ibu kota terhadap kelompok yang membutuhkan uluran tangan. Selama ini, program tersebut hanya aku lihat di iklan beberapa kali saat menonton program di stasiun TV yang sama. Air mata benar-benar tak dapat dibendung, mengalir bagaikan air sungai menuju lautan, deras penuh haru. Setiap periode tertentu anak para pengidap kanker tersebut harus menjalani kemoterapi, jadi tidak aneh lagi ketika kepala mereka habis, tidak berambut. 

Berbagai jenis dan stadium kanker ada pada diri anak-anak pilihan itu. Mulai dari kanker mata, ginjal, darah, ovarium, sampai kanker paru-paru. Bahkan di akhir program tersebut dituliskan catatan, seorang anak perempuan berumur 2,5 tahun pengidap kanker mata stadium akhir telah kehilangan kedua matanya sebelum program tersebut ditayangkan. Sangat miris bukan? Lantas, coba kita renungkan sejenak. Kadang kita merasa bete atau tidak puas terhadap sesuatu. Kesehatan, materi, pendidikan semua itu sering terluput untuk disyukuri. Aku bersyukur, Tuhan masih sayang denganku karena mengingatkanku melalui tayangan ini untuk mensyukuri apa yang ada. Mensyukuri bukan berarti apatis dengan sesama dan berempati saja tapi hendaknya dibarengi dengan tindakan yang nyata. Maya Septha pun berkata, "jika ingin menolong sesama, jangan tunggu sampai kaya dulu, menolong bia dalam berbagai bentuk. Menolong berarti memberi apa yang menjadi kelebihan dan kemampuan kita ke orang lain dengan baik. Sehingga nantinya akan bermanfaat bagi kita dan orang lain tersebut.

Air mataku terus saja meleleh di ruangan yang cukup teduh itu. Mungkinkah ini rasa empatiku pada mereka, rasa yang secara spontan hadir dan menyesakkan dadaku.

Tuhan...sekali lagi Engkau telah memberikanku pelajaran hidup yang luar biasa hikmahnya. Semoga diri ini mampu menjadi bagian yang bermanfaat bagi mereka, hamba pilihanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar ya di sini, terima kasih.