Rabu, 08 Juni 2011

Wah..Adikku Jadi Pengantin??

Minggu, 5 Juni 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi dunia peradaban keluarga Suyono. Pasalnya pada hari itu telah terjadi perhelatan yang dihadiri oleh Akbar (nama salah satu tetangga terdekat yang punya perhelatan) di salah satu sudut kota Bekasi. Pagi-pagi buta sudah terlihat kesibukan di kediaman keluarga tersebut. Ada yang mondar-mandirin setrikaan karena sedang menggosok pakaian, ada yang bolak-balik ayam yang digoreng, ada juga yang naik turunin panci untuk merebus sayuran.

Yup...Waktu pengantin tampil sudah tiba. Berbagai persiapan untuk menyambut sang pengantin dilakukan. Pagi buta menjadi saksi semuanya (kok bisa ya??udah tau buta kok bisa menjadi saksi??)

Ini dia tayangan persiapan pengantin menuju acara sakral yang akan segera berlangsung yang layak untuk dipertontonkan.

Pengantin Sunat merupakan istilah bagi masyarakat Sunda untuk anak laki-laki yang disunat. Anak-anak didudukkan di atas jampana atau tandu kayu. Ustad dan pupuhu (ketua adat) mendoakan agar anak-anak berbakti kepada orang tua, agama, dan bangsa.Pupuhu memberi restu dengan mencipratkan air kunyit, beras merah, dan panglai.

Kemudian pengantin sunat di atas jampana dipikul orang tua dan keluarga diiringi tetabuhan tradisional Sunda seperti, reog, calung, gendang, dan terompet. Rombongan berkeliling kampung  Biasanya pengantin sunat dihibur tarian dan menari bersama orang tua. 

Nah, pengantin sunat yang diselenggarakan oleh keluargaku ini beda. Bisa dibilang acara syukuran kecil-kecilan. Demi memberi rasa senang sang adik yang sudah ingin sekali dan merengek minta disunat. Sebenarnya sunat yang baik bagi anak laki-laki adalah pada umur 7 tahun atau sekitar kelas 2-3 SD. Adikku ini terhitung telat disunatnya karena umurnya sudah 12 tahun.
Walaupun telat tapi toh masih bisa menjalankan kewajiban agama. Selama ada niat pasti ada jalan, itulah yang dialami keluargaku. Penyelenggaraan syukuran ini baru bisa terlaksana dikarenakan Yang Kuasa baru memberi kesempatan berua rezeki dan waktu saat adikku berumur 12 tahun untuk disunat.

Tidak seperti anak laki-laki yang disunat pada umumnya, adikku tidak menangis sama sekali. Mungkin karena sudah bukan anak kecil lagi ditambah adikku temasuk anak yang kuat jadi tidak ada tangisan sedikit pun. Adikku disunat dengan metode Laser. Sebenarnya saat ini perkembangan teknologi untuk persunatan sudah semakin pesat ada beberapa alternatif cara sunat yang bisa menjadi pilihan berbagai orang tua untuk menyunat anak lelakinya. Berikut ini merupakan pemaparan tentang 7 metode sunat saat ini yang dapat diakses pada alamat: http://celana-khitan.blogspot.com/2010/11/mengenal-7-metode-khitan.html?utm_source=BP_recent.

Kalo pengalaman yang pernah saya rasakan baru-baru ini adalah metode khitan (sunat) dengan laser. Keuntungannya cepat proses sunatnya sekitar 10 menit, hasilnya rapi, rasa sakitnya sedikit. Kekurangannya perlu waktu penyembuhan kurang lebih semingguan sampai benar-benar sembuh. 

Metode sunat yang lainnya berdasarkan pengalaman adalah metode bogem. Nah metode ini yang terkenal dan menjadi the best recomended untuk sunat. Kenapa??? Jika sunat dengan metode ini rasa sakit yang diarasakan tidak begitu hebat, 5 menit saja prosesnya dan anak bisa langsung mengenakan celana pasca sunat. Namun, untuk biayanya memang relatif mahal, he..

So, bagi yang memang punya rencana sunat (baik untuk anak, keponakan, atau mungkin Anda sendiri) silakan pilih alternatifnya sesuai dengan selera dan Kepentingan Anda.

Semoga info ini bermanfaat ya...:)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar ya di sini, terima kasih.